Menu

Blog Search

Comments

There are currently no blog comments.

Pakar soal Alun-alun Yogya Jadi Aset Metaverse: Dunia Virtual Berbeda

PT. BESTPROFIT FUTURES

Pakar Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ridi Ferdiana menanggapi Alun-alun Utara milik Keraton Yogyakarta dijual di dunia virtual untuk penggunaan aset Metaverse melalui situs Nextearth.io. seharga 244.51 USDT atau United States Dollar Tether. BESTPROFIT

"Sesuai dengan namanya metaverse maka lokasi yang ada di metaverse ini tidak diberi nama atau unnamed teritory. Namun demikian pemilik aset virtual tersebut besar kemungkinan akan menamakannya dengan lokasi yang sama dengan di dunia nyata. Pada saat itu terjadi tentu pemilik aset real dapat memilikinya atau membiarkannya karena di dunia virtual yang berbeda," kata Ridi saat dihubungi, Rabu (5/1).

Untuk diketahui aktivitas perdagangan ini bukan menjual fisik sebidang tanah pada umumnya, melainkan penjualan aset melalui virtual pada salinan persis dengan asli menggunakan teknologi berbasis blockchain.

Menurut Ridi, pemilik aset di dunia nyata masih bisa memiliki lahan yang sama di metaverse dengan cara membelinya atau menggandeng developer untuk menciptakan petanya serupa dengan skala dan cirinya sendiri.

"Bisa keduanya, beli atau bikin sendiri. Metaverse berbeda dengan penyedia berbeda. Ini seperti Spiderman ada tiga, bukan hanya dua," tuturnya.

Ridi menerangkan, Next Earth sendiri adalah sebuah situs yang mengombinasikan berbagai teknologi peta digital, blockhain, dan juga konsep metavervse. PT. BESTPROFIT

"Saat ini kita tahu perusahaan teknologi seperti Google atau Here telah memotret peta dunia dan digunakan oleh kita sehari-hari untuk navigasi atau mencari tempat. Peta digital tersebut kemudian dijadikan sebagai lahan virtual yang dikenal dengan Tiles," jelas dia.

Tiles ini, menurut Ridi, dapat diperjualbelikan dengan teknologi Blockchain yang sudah dikenal yakni kripto. Singkat kata, Next Earth merupakan platform jual beli mata uang kripto menggunakan tanah virtual sebagai asetnya.

"Next Earth menggunakan mata uang tersendiri yang dikenal dengan MATIC untuk membeli tanah tersebut," sambungnya.

Ridi menyebut para pengguna metaverse tanah virtual dewasa ini telah berkembang. Berbagai lokasi seperti kampus, situs sejarah dan budaya mulai diperjualbelikan.

Kenaikan nilai investasi juga cukup menjanjikan. Ia mencontohkan UGM yang bernilai 0.1 USDT saat ini memiliki nilai 382,64 USDT, atau 282 persen kenaikan investasinya.

"Jika dibandingkan dengan kenaikan tanah di kondisi nyata tentu ini sangat menjanjikan? Tetapi apakah memang aman dan ada peminat yang bersedia membeli, itu cerita yang berbeda," imbuhnya.

Keamanan aset virtual Next Earth didasarkan pada konsep Blockchain. Uang kripto pada Next Earth adalah Non Fungible Token (NFT) yang tidak dapat dipertukarkan, namun bisa diperjualbelikan.

NFT adalah objek digital unik dan melekat. Layaknya membeli kendaraan dengan kepemilikan BPKB yang tercatat, maka membeli tanah virtual akan memiliki kepemilikan berupa NFT yang mencegah aset disalin dan diperbanyak. PT. BEST PROFIT

"Legalisasinya saat ini memang belum diatur sepenuhnya untuk aset virtual ini. Tetapi mengacu pada statemen bank sentral indonesia, uang crypto adalah digital commodities yang perlu dikaji kredibilitasnya," pungkas Ridi.

Sebelumnya Pemda DIY sendiri menyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas jual beli lahan virtual via situs Next Earth ini.

"Terkait berita Kompleks Kepatihan maupun Alun-alun Utara yang dijual di situs Next Earth, Pemda DIY tidak pernah bekerja sama, merekomendasikan, atau mengizinkan jual beli secara virtual terkait aset-aset apa pun milik DIY," kata Kepala Bagian Biro Umum Humas dan Protokol Setda DIY Ditya Nanaryo Aji dalam keterangannya, Rabu (5/1).

Next Earth, dalam laman Nextearth.io dideskripsikan sebagai platform kepemilikan lahan virtual menggunakan teknologi berbasis blockchain.

Dengan opsi 'buy land', pengunjung situs mempunyai kesempatan untuk membeli lahan-lahan virtual pada peta digital sejumlah kawasan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ditya kembali menegaskan jika jual beli lahan virtual ini tidak memiliki relevansi dengan kepemilikan sah sejumlah aset fisik di DIY. BEST PROFIT

"Jika ditemukan ada kasus jual beli secara virtual lewat platform apa pun, sepenuhnya merupakan klaim sepihak dan tidak ada relevansi dengan kepemilikan sah aset fisik tersebut," tutupnya.

 

Sumber : cnnindonesia

 

PT BESTPROFIT FUTURES, PT BEST PROFIT FUTURES, PT BESTPROFIT, PT BEST PROFIT, BESTPROFIT FUTURES, BEST PROFIT FUTURES, BESTPROFIT, BEST PROFIT, BESTPRO, BPF, PT.BPF, BPF BANJAR, BPF BANJARMASIN, PT BEST, PT BPF

Go Back

Comment